Sabtu, 30 September 2017

Menulis Karena Cinta Kepada-Nya

Goresan Pena oleh : Dinni Syafriyuni

   
      Jika kita melakukan sesuatu tanpa didasari dengan cinta, maka ia akan terasa hambar. Rasanya hanya bisa dinikmati oleh ujung lidah tanpa sedikitpun menikmati keseluruhannya. Yuk, kita hadirkan cinta disetiap rangkaian huruf yang tersusun menjadi kata, tidak ada unsur paksaan apalagi tekanan. Jika kita menulis hanya karena cinta kita kepada-Nya, maka kita bisa merasakan betapa lezatnya setiap kata yang tersusun didalam tulisan.

         Jika kita menulis karena ego ingin dipuji. Percaya lah ia tak akan bertahan lama, semua tergantung niatnya. Jika kita meniatkan segala sesuatu hanya karena Lillahi Ta’ala maka Sang Maha Penguasa Alam akan memberkahi setiap kata yang kita torehkan di secarik kertas.

         Misalnya: jika kita mengikuti event perlombaan atau sayembara menulis, diniatkan hanya karena, ingin juara dan mendapat e-sertifkat. Maka, ketika pengumuman kontributor terpilih nama kita tidak ada disana alias naskah kita ditolak atau gagal. Kita pasti akan kecewa berat, hati tersakiti, rasanya tertikam oleh jeruji besi. Pedihnya tak dapat dilukiskan oleh kata-kata. Rasanya hati ingin berontak keras, menyalahkan keadaan, memecahkan sesuatu yang kita gengam dan ada rasa iri terhadap teman literasi yang karya naskahnya lolos.

         Begitulah, jika kita meniatkan mengikuti event perlombaan itu hanya karena ingin dipuji. Tak sadarkah kita? Tuhan sedang menguji kesabaran kita, tak selalu yang kita inginkan bisa tercapai. Bukankah jika kita ingin berhasil, maka kita harus gagal dulu berkali-kali? Tidak ada yang instan bukan?

         Ya, aku mengatakan ini semua karena, aku pun pernah gagal berkali-kali dalam event perlombaan menulis. Aku banyak belajar darinya, bertahun-tahun aku mengikutinya. Typo yang sangat sering aku lakukan, penempatan huruf besar dan kecil yang salah, syarat-syarat perlombaan yang mungkin belum ditaati sepenuhnya, dan lainnya.

         Mungkin kita akan menganggap remeh perihal ‘syarat’ padahal perkara ini sangat penting untuk dinilai oleh juri. Sedikit cerita, aku punya teman literasi juga, dia sangat jago menulis. Tulisannya sangat indah, gaya bahasanya kece badai dan idenya pun kreatif. Hingga aku mengusulkan untuk mencoba mengikuti event perlombaan menulis sebagai ajang pembelajaran diri. Ternyata ia menolak, karena dia tipe orangnya praktis tidak suka yang ribet-ribet, termasuk ia enggan untuk mentaati segala aturan yang di sepakati oleh Penerbit.

         Ya, yang penting tugasku untuk mengingatkan sudah lunas masalah terima atau nggaknya dia lagi yang ambil kesimpulan kan? So, kita nggak bisa paksa seseorang menjadi seperti apa yang kita mau. Karena, kita bukan sang hakim. Semua orang berbeda karakter. Hargailah setiap orang.

         Emang sih salah satu syarat perlombaan menulis yang membuat kita ribet menurutku yang masih pemula di dunia literasi ini adalah membuat tulisan minimal 3 halaman dan biodata narasi minimal 50 kata tidak boleh lebih, dulu aku juga binggung sendiri. Bagaimana cara mempersingkat atau memperkecil ide cerita disebuah tulisan. Merangkai kata sedemikian cantik dan indahnya dan menghadirkan cinta melalui tulisan.

         Hingga, aku belajar dari kegagalan berkali-kali dan akhirnya aku tahu dimana letak kesalahanku. Dan aku tak ingin terjebak di lubang yang sama. Untuk itulah aku ingin berbagi sesama sobat Forum Lingkar Pena (FLP) Takengon dan saudara/i yang meluangkan waktu membaca coretan ini. Khususnya, coretan sederhana ini ku dedikasikan buat cambukan diriku sendiri, agar semangat senantiasa menyala untuk meninggalkan jejak coretan di kehidupan nan fana ini dan bisa menjadi kenang-kenangan dikemudian hari, juga mengharap ridha Tuhan. Ya, hanya karena Dia semata bukan karena siapa-siapa.

Biodata
Dinni Syafriyuni. Tinggal di dataran tinggi Tanoh Gayo, kabupaten: Aceh Tengah.  Kota ini dijuluki Negeri di atas Awan. Usia 25 tahun. Pecinta percikan air dan hobi berpetualang ini bisa dihubungi via facebook: Dinni Syafriyuni. E-mail: dinnisyafriyuni@gmail.com.

Beberapa goresan pena nya telah terbit dibeberapa buku Antologi. Masih anak bawang dalam wadah komunitas Forum Lingkar Pena Takengon. Mari torehkan goresan pena, sebagai jejak literasi kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar